Laman

Senin, 19 Desember 2011

Kreativitas

Sampah daun memang bukan sesuatu yang istimewa untuk dibahas. Akan tetapi menjadi menarik jika sampah tersebut diubah menjadi sesuatu yang bermanfaat kembali selain digunakan menjadi kompos. Dalam hal ini penulis mencoba memanfaatkan sampah daun kering untuk digunakan sebagai bahan pembuat kertas seni. Melihat kertas memiliki karakter cukup unik yang dihasilkan dari kompresi serat, permukaan yang kasar justru membuat kertas tampak lebih alami dan artistik. Serat pada kertas yang digunakan biasanya adalah serat alami dan mengandung selulosa, sehingga penulis mengambil daun untuk dijadikan bahan kertas karena daun memiliki syarat tersebut.

Kertas seni berbeda dengan kertas pada umumnya seperti kertas HVS atau buram. Kertas seni atau biasa disebut art paper dapat dibuat dari limbah kertas HVS, buram, koran, tissu atau dari bahan lainnya misalnya limbah pertanian yang salah satunya sampah daun. Dalam penggunaan tertentu, kertas seni mempunyai nilai seni yang lebih dibandingkan kertas tipis biasa yang kebanyakan polos teksturnya. Dilihat dari teksturnya, tekstur kertas seni agak kasar dan seratnya terlihat. Hal ini dikarenakan bahan yang digunakan tidak seluruhnya hancur ketika dijadikan bubur kertas sehingga menghasilkan tekstur yang tidak merata dan ini menjadikan kertas tersebut menjadi lebih menarik untuk dibuat hiasan dengan berbagai bentuk.

Langkah pertama untuk membuat kertas seni dari sampah daun adalah dengan mengumpulkan sampah daun kering kemudian dipotong kecil – kecil. Kemudian direbus dengan ditambahkan sedikit soda kaustik (NaOH) sampai daun menjadi lunak. Sampah daun yang digunakan adalah daun yang kering dikarenakan daun yang kering masih memiliki stuktur yang utuh dan warna yang bagus sehingga ketika untuk dijadikan bubur kertas diperoleh bahan pengisi yang baik dan tekstur yang indah pula. Jika menggunakan daun yang basah atau masih muda atau bahkan yang sudah membusuk akan membentuk bahan pengisi untuk bubur kertas kurang bagus. Pemotongan kecil –kecil digunakan untuk memudahkan dalam pengancuran menjadi bubur kertas. Perebusan daun dimaksudkan agar daun menjadi lunak, selain itu pada saat proses perebusan ditambahkan soda kaustik (NaOH) dimaksudkan untuk mempercepat proses pelunakan dan untuk menghilangkan getah – getah yang masih menempel pada daun. Natrium hidroksida (NaOH) atau dikenal dengan nama soda kaustik membentuk larutan alkalin yang kuat ketika dilarutkan dalam air. Soda kaustik kebanyakan digunakan sebagai basa dalam proses produksi bubur kayu dan kertas, tekstil, air minum, sabun dan detergen. (www.wikipedia.com.)

Proses berikutnya, setelah daun lunak kemudian disaring dan dibersihkan dengan cara membilas dengan air bersih dimaksudkan agar zat yang ditambahkan tadi dapat larut. Karena untuk dijadikan kertas, daun harus dibuat dulu menjadi bubur maka daun yang sudah dibersihkan dihaluskan dengan diblender sampai hancur. Dalam penghancuran ini daun tidak seluruhnya halus seperti tepung tetapi masih ada serat – seratnya dan ini digunakan untuk mempercantik tekstur kertas.

Daun yang digunakan dalam penelitian ini dari berbagai macam jenis daun, namun komposisi yang paling banyak adalah daun akasia. Karena di lingkungan peneliti kebetulan banyak pohon akasianya. Menurut literatur yang diperoleh, akasia mengandung zat tanin yang merupakan komponen zat organik derivat polimer glikosida yang hasil ekstraknya dapat dibuat campuran lem. (www.lipi.co.id). Hal ini sangat kebetulan sekali, bahwa nantinya daya rekat kertas menjadi semakin kuat dan tidak mudah rapuh, mengingat karakter kertas yang mudah rapuh. Tetapi yang menjadi kelemahan ketika direbus, daun menjadi hitam sehingga kertas yang dihasilkan juga berwarna hitam. Dan karena hitam merupakan warna yang permanen yang sulit untuk diubah menjadi warna yang lain, maka warna hitam daun tersebut menjadi seni tersendiri untuk kertas seni dari sampah daun hasil penelitian kami.

Setelah daun menjadi bubur maka ke dalam bubur kertas ditambahkan lem untuk memperkuat daya rekat kertas sehingga tidak rapuh dan mudah sekali hancur terutama apabila terkena air. Dari campuran tadi, kemudian dicetak pada papan cetak sablon atau kain scren untuk mempermudah membentuknya menjadi kertas dengan ukuran folio dengan ketebalan 5 cm. Kertas kami cetak dengan ukuran yang agak tebal karena akan kami jadikan sebagai kartu ucapan. Setelah itu bubur kertas dikeringkan di bawah sinar matahari dan siap untu dijadikan hiasan. Dalam pemanfaatan bubur kertas ini, tidak hanya dapat dibuat menjadi sebuah bentuk, tetapi juga dapat dibuat menjadi bentuk yang lain seperti tempat tissu, kotak perhiasan, alas gelas dan sebagainya sesuai dengan kreatifitas masing – masing.

Dengan demikian, dari penelitian kami dapat sedikit membantu mengatasi sampah yang tidak akan pernah habis selama berjalannya waktu. Sampah yang semula tidak berguna dan diabaikan begitu saja, akan mendatangkan sesuatu yang bermanfaat jika kita jeli dan peka untuk memanfaatkan atau mengolahnya. Bahkan jika kreatif dalam mengolahnya tidak hanya akan menjadi hiasan untuk pribadi tetapi juga akan mempunyai nilai jual dan meningkatkan nilai ekonomi.

1 komentar: