Laman

Jumat, 23 Desember 2011

Pendidikan Di SANGGAR GARUDA


Mari memulai dengan berfikir positif, karena menurut pelajaran matematika dasar positif dikali positif sama dengan positif, karena itu jika dari awal pemikiran tentang kurikulum ini positif maka seharusnya akan menghasilkan sesuatu yang positif. Tetapi ketika positif dikali negative maka tetap saja akan menghasilkan yang negative dan seterusnya menurut pelajaran matematika dasar.
Setelah berfikir positif mari kita sedikit menelaah tentang konsep balai anak yang digagas oleh Family Strengthening Programme (FSP) SOS Children Villages Yogyakarta, bahwa balai anak adalah bagian dari program FSP yang kehadirannya sebagai sebuah rumah tempat anak, orang tua, pendamping dan lembaga swadaya masyarakat bersama-sama membangun spirit pembelajaran yang sejati pada anak-anak, agar anak-anak menemukan dirinya sendiri pada wilayah minat, kemampuan dan keterbatasan yang diolah untuk menjadi kekuatan sehingga menjadi sebuah potensi.
Pada proses panjangnya rumah yang bernama balai anak ini menggunakan berbagai macam metode guna membantu mencapai tujuan kehadirannya salah satunya adalah pembelajaran terpadu dan tematik dengan tujuan agar anak dalam proses belajar tidak terkotak-kotakkan dibatasi mata pelajaran, melainkan terpadu dalam kerangka tema yang dekat dengan dunia anak, ada banyak lagi metode seperti eksplorasi, sharing atau berbagi baik pengalaman maupun pengetahuan atau juga dengan berkompetisi dalam olah fikir, olah raga dan olah rasa yang secara keseluruhan berangkat dari spirit lokalitas, segala sesuatu yang dekat dengan kehidupan anak untuk kemudian dipresentasikan dalam berbagai bentuk pementasan, pameran, penerbitan karya tulisan atau karya-karya anak yang lain.
Kurikulum Aku anak Indonesia dalam 6 bulan yang sederhana berusaha untuk berangkat dari apa yang sudah dilakukan dan dari apa yang ada, berangkat dari metode-metode yang sudah dilakukan dengan merespon kelokalan dan apa yang tersedia di lokal masing-masing dampingan. Dengan menggunakan beberapa prisip seperti Bermain, Sederhana, Holistik (menyeluruh) dan tematis tentunya.
Bermain, disadari atau tidak kata ini berpengaruh lebih dari kata belajar, pada kurikulum ini kita tidak akan menyandingkan dua kata sekaligus bermain sambil belajar atau belajar dan bermain, belajar ya belajar bermain ya bermain kalaupun dalam permainan ada pelajarannya itu adalah bonus dari permainan. Karena secara psikologis ketika kita mengajak anak-anak bermain sambil belajar maka kata belajar menjadi ganjalan yang cukup berpengaruh pada emosi anak, jadi malas bermain misalnya. Bemain ini akan terjadi dua arah, pendamping yang bermain dengan anak dan anak yang bermain dengan pendamping, pendamping menggunakan media pembelajaran sebagai sebuah permainan dan anak menerimanya sebagai sebuah permaianan dan akhirnya keduanya bermain maka terjadilah sebuah permainan yang serius diantara mereka.
Sederhana, bermain adalah kata pertama yang sederhana yang telah dibahas di atas selanjutnya adalah tentang memulai dari sesuatu yang paling sederhana, tidak berat tidak juga rumit sederhana saja, meski sederhana relative sesuai dengan individu masing-masing tapi mari kita mulai dari sesuatu yang ada di sekitar kita, yang paling dekat, mudah didapat, banyak bermanfaat dan mudah diingat. Semacam mengeksplorasi sesuatu semaksimal mungkin dan sedetail mungkin
Menyeluruh, berangkat dari sebuah permainan sederhana anak-anak bisa belajar tanpa harus terkotak dalam bidang tertentu, kurikulum ini terpadu meski berangkat dari yang paling dekat menuju yang lebih jauh, dari yang khusus menuju yang umum (induktif). Menyeluruh juga berarti tidak membatasi cakupan bisa apa saja, siapa saja, kapan saja, dimana saja yang penting bermain dan sederhana. Pesan dari mba tata ttg holistik atau menyeluruh di sini fokuspada mengasah spiritual, mengembangkan aspek sosial dan fisiknya, menguatkan daya intelektualnya plus psikisnya juga, dll. jadi bener2 muatan kita ke anak tersebut kuat agar jiwa mandirinya tumbuh dan berkembang dengan baik.
Tematik, permainan sederhana yang menyeluruh dalam satu tema dengan subtema yang judulnya ditentukan oleh pendamping sesuai dengan minat, kemampuan, keterbatasan, kekuatan dan potensi pendamping disesuaikan dengan minat, kemampuan, keterbatasan, kekuatan dan potensi wilayah dampingan sehingga tercapai sebuah sinergisitas diantara keduanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar